Kamis, 01 Agustus 2013

"Doa Dari Prapatan" Sirkus Barock



Bunyi gitar bedenting terasa hening
Hujan menyentuh kening siang yang asing
Hidup makin kering semakin bising
Doa anak liar di prapatan
Nyanyian mereka untuk siapa?
Nyanyian mereka di dengar siapa?


foto: Septianjar Muharam
Lirik Doa dari Prapatan itu dinyanyikan musikus gaek Sawung Jabo, sambil memetik gitar, diiringi tabuhan pelan drum dan perkusi band legendaris Sirkus Barok. Sekitar seribu penonton terpaku menikmati lagu balada itu di Teater Terbuka Dago Tea House, Bandung, Rabu 29 Mei 2013.

Lagu dari Album Badut 1992 itu menjadi salah satu pembuka konser Sirkus Barock bertajuk Cerita dari Jalanan. Penonton diajak masuk menyelami masalah sosial yang terjadi di tiap perempatan kota, di mana anak-anak jalanan terus tumbuh dalam dunianya sendiri.

Di atas air asap menari
Kaca yang tetak didepanku
Di atas nasib api menyala
Nyanyianmu meresahkan hidup
Oooh… Oooh (4x)
Gitar masih berbunyi hujan berhenti
Daun yang tertunduk menyembah bumi
Halilintar di langit datang sejenak
Suaranya serak menahan marah
Api menyala air mengalir
Kita tak bisa menyingkir
Duka mereka dukanya hidup
Duka anak kehidupan
Mereka terus bertambah
Dari mana datangnya?
Mereka terus bernyanyi
Walau tak bisa menyanyi
Mereka terus berdoa
Terus saja berdoa

Pukul 20.05 WIB, Sawung Jabo yang mengenakan kemeja lengan panjang lurik, celana panjang putih, plus ikat kepala batik, naik ke atas panggung yang ditata sederhana. Sekujur tubuh panggung ditempeli dengan koran-koran bekas, begitu juga di teras panggung banyak gumpalan-gumpalan koran. Kiri kanan panggung terdapat drum yang berisi kayu yang  terbakar, asapnya membumbung ke atas langit Kota Bandung yang cerah.

Kemunculan Jabo diikuti personel Sirkus Barock lainnya, Totok Tewel (elektric guitar), Ucok Hutabarat (biola), Joel Tampeng (electric guitar), Bagus Mazasupa (keyboard), Sinung Sinyong (bass), Endy Baroque (drum), Denny Dumbo (percussion, wood wind), Giana Sudaryono (percussion). Mereka berdiri dalam formasi, lalu Aat Soeratin, MC yang juga pihak penyelenggara dari Komunitas Budaya Rumah Nusantara, memberikan sedikit sambutan, lalu mengajak hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Seorang pengibar bendera, Imam Suryantoko, berdiri paling depan sambil mengibarkan bendera Merah Putih.
 
Berikutnya, tanpa basa-basi, Sawung Jabo dkk langsung menyuguhkan beberapa lagu, di antaranya Burung Kecil. Lagu dari Album Goro Goro ini dibalut musik dalam tempo cepat. Di sela musik yang makin meninggi, muncul suara lenguhan seperti orang kesakitan diiringi gesekan biola.

Burung kecil
Burung kecil diterjang angin
Memanggil manggil
Suaranya hilang ditelan udara bising
Tak bisa kembali ke sarangnya
Orang orang kecil diterjang hidup
Berteriak teriak
Hingga habis suaranya
Tak bisa mendengar suaranya sendiri
Jutaan suara gelisah
Bergelombang datangnya
Mengguncang guncang tidur
Tidak juga kita terbangun
Ada apa !

Usai Burung Kecil, Sirkus Barock lalu menyuguhkan lagu Doa dari Prapatan, Goro-goro, Jula Juli, dan Anak Angin. Lagu-lagu ini dikemas dengan musik khas dari band yang album pertamanya lahir 1986 dengan tajuk Anak Setan. Konser ini memamerkan kepiawaian bermusik khas Sirkus Barock, yakni paduan musik rock klasik dan tradisi. Melodi gitar yang melengking hingga mengeras, berpadu dengan biola dan cello, diiringi deru drum yang berkolaborasi dengan aneka alat musik seperti perkusi, suling, gondang, karinding, rebana, harmonika hingga kecrek.

Mungkin semua penonton yang hadir malam itu setuju, Sirkus Barock menampilkan seni konser bercitarasa tinggi. Padahal Sawung Jabo tak muda lagi, juga banyak pemain Sirkus Barock yang muda dan baru. Semarak musik apik itu didukung “mini orkestra” dari grup Santen Strings Kwartet yang memainkan empat pemain alat musik gesek, yakni Ellena, Adi, Fu, dan pemain cello Hasnan.

Setelah hampir sejam konser, Sawung Jabo baru menyapa penonton yang menjejali Teater Terbuka. "Terimakasih Bandung tercinta. Senang bisa bertemu hawa Bandung yang dingin dan akrab," katanya, sambil menenggak air mineral. Kemudian penonton kembali menikmati salah satu lagu dari Album Anak Angin, Kalau Batas Tak Lagi Jelas.

Kalau batas tak lagi jelas
Mata hati harus awas
Kata harus berjiwa
Langkah harus bermakna

Konser ini ditonton penonton beragam kalangan dan usia. Berbagai reaksi dan ekspresi muncul dari penonton, kadang mereka sabar menyimak musik yang dimainkan hingga hanyut dalam musik slow dengan lirik menyentuh, ada yang manggut-manggut menyelami lagu-lagu yang umumnya bermuatan kritik sosial, kritik terhadap kekuasaan, tumbuhnya kemiskinan dan ketidakadilan. Lalu penonton otomatis bergoyang atau bertepuk tangan ketika Sirkus Barock menyajikan musik kerasnya.

Baru pada pertengahan konser, Jabo mulai mengenalkan para personelnya satu-satu, sambil diselingi dengan canda yang akrab. "Saya kenalkan para bandit yang masing-masing punya dosa yang seimbang,” ujarnya. “Terimakasih kepada para penggerak konser hingga kami bisa pentas di sini. Pokoknya kepada semua warga Bandung tercinta. Konser ini dibayarnya dengan hati.”

Kalimat Jabo tersebut mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang umumnya undangan dari berbagai komunitas seni di Bandung dan sekitarnya. Setelah perkenalan yang penuh dengan gelak tawa, Jabo menyatakan ada penampil khusus dalam grup Sirkus Barock, yakni musisi yang juga kerap membawakan lagu kritik sosial, Oppie Andaresta. Pelantun lagu Cuma Khayalan itu pun naik ke atas disambut gemuruh penonton.

Mengenakan pakaian gelap yang dibalut rompi putih plus celana panjang merah, Oppie berdiri di samping Jabo sambil memegang kecrek. Selanjutnya musisi kelahiran Jakarta ini berduet membawakan salah satu lagu dari Album Anak Angin yang diciptakan Sawung Jabo, Bicaralah Dengan Cinta. Lagu ini hasil permenungan Jabo terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang mudah meledak dan intoleransi terhadap perbedaan.

Mari belajar mendengar
Mari belajar bersabar
Jangan merasa paling benar
Merasa paling pintar
Jangan suka marah-marah
Jangan suka memfitnah
Jangan suka menghakimi
Jangan suka anarki
Jangan merasa suci, jangan suka membenci
Dengarkan nuranimu, bicaralah dengan cinta
Jaga kata-katamu, jaga kelakuanmu
Dengarkan nuranimu, bicaralah dengan cinta
Marilah kita belajar
Menghargai perbedaan
Jangan memaksakan kehendak
Jangan pakai kekerasan
Dunia ini milik bersama
Hidup milik semua
Mari kita saling menjaga
Hayati hidup bersama

Jabo dan Oppie lalu membawakan lagu kritis lainnya, Kesaksian Jalanan dan Dongeng Politik. Oppie memamerkan kepiawaiannya dalam bermain harmonika dan perkusi yang bersahutan dengan gesekan biola dari Ucok dan melodi dari gitar akustik Totok Tewel. Pada lagu selanjutnya, Oppie memainkan perkusi sambil sesekali memainkan harmonika atau menjadi backing vocal.

Pada sesi terakhir, Sawung Jabo mengajak penonton berdiri. Sirkus Barock membawakan lagu yang selama ini populer dibawakan Iwan Fals, Bongkar. Bongkar versi Sawung Jabo tentu sedikit berbeda dengan versi Iwan Fals, tetapi tidak kalah membongkarnya, bahkan lebih keras dan garang.  Lagu ini diawali dengan intro yang cukup panjang.

Berikutnya Sirkus Barock menyuguhkan lagu-lagu Sodron yang diiringi musik kencang diperkaya dengan melodi akustik. Usai itu, penonton yang sejak awal berteriak-teriak minta lagu Kuda Lumping dan Hio, terjawab sudah. Di penghujung konser, Sirkus Barock menghadirkan dua lagu andalannya itu. Ketika membawakan Kuda Lumping, semua penonton berdiri. Penonton di bagian paling depan panggung tidak kuasa berjingkrak dan bernyanyi, diiringi hentakan bass dan drum Kuda Lumping. Malah ada seorang penonton yang naik panggung ingin berjoget bersama Sawung Jabo, tetapi panitia berhasil membawa penonton tersebut ke tempatnya semula. Drumer Sirkus Barock, Endy Baroque, juga memamerkan aksi teatrikalnya dengan memakai topeng barong sambil naik ke atas drum. Dia berjoget diiringi pekik terompet tradisional yang biasa mengiringi kesenian Kuda Lumping yang mistis.

Kuda lumping nasibnya nungging
Mencari makan terpontang panting
Aku juga dianggap sinting
Sebenarnya siapa yang sinting?

Histeria penonton ditutup dengan lagu yang penuh dengan pesan moral, Hio. Kali ini, atraksi ditampilkan lewat perang drum, melodi, dan sayatan biola. Ratusan penonton makin larut dalam musik dan lagu yang populer dibawakan Iwan Fals dan Jabo dalam album Swami II pada 1991 itu.

Aku tak mau terlibat segala macam tipu menipu
Aku tak mau terlibat segala macam omong kosong
Aku wajar wajar saja
Aku mau apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi
Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan
Aku mau jujur jujur saja
Bicara apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio

"Terima kasih Bandung, hatur nuhun,” kata Jabo, berpamitan. Penonton gemuruh, sebagian bertepuk tangan. Meski konser sudah usai, penonton masih tetap berdiri untuk memberikan tepuk tangan kedua.

Sayang, konser musik yang apik ini harus tercoreng dengan kampanye politik. Usai membawakan Hio, Aat naik ke atas panggung sambil mengajak calon wali kota Bandung periode 2013-2018, Ridwan Kamil, untuk memberikan cinderamata kepada Sawung Jabo. Pesan moral dan kritik sosial dalam lagu Hio sepertinya tercemar kampanye. Jabo yang tidak menyadari adanya kampanye terselubung di penghujung konsernya, hanya tersenyum. Banyak penonton yang berteriak-teriak tidak setuju dengan naiknya Ridwan Kamil ke atas panggung. “Kampanye! Karunya Jabo, karunya Jabo!” kata seorang penonton.

          ***

Bagi Sirkus Barock, tampil di Dago Tea House Bandung bukanlah kali pertama. Pada 22 Mei 2011 lalu, band legendaris ini pernah konser di Teater Tertutup Dago Tea House. Tetapi konser kali ini, Sirkus Barock menyajikan lebih banyak kejutan, selain menampilkan Oppie Andaresta. Misalnya, di atas panggung Sawung Jabo mengenalkan adiknya, Peni Candra Rini, untuk membawakan lagu Pengelana Merdeka yang liriknya ditulis oleh sahabat Jabo, yakni penyair dari Surabaya, Hengky Kurniadi. Peni membawakan lagu ini dengan suara yang kadang melengking seperti sinden tradisional, kadang suaranya meninggi seperti vokalis lagu rock klasik. Selama Peni bernyanyi, Jabo hanya berdiri ambil memeluk gitarya. Jabo juga mengenalkan keponakannya Diana Sudaryono untuk membawakan lagu Gumam Batin Pengembara.

Di sela konsernya, Jabo memamerkan kemampuannya bermonolog yang diiringi musik: Jabo menunjukkan bagaimana musikalisasi monolog. Monolognya berisi kritik sosial yang berbau paradoks. Di warung becek yang memiliki satu wc yang dipakai 100-an keluarga, tutur Jabo, di dalam bus kota yang larinya seprti setan, di dalam bus juga pengap dan bau kentut. Bagaimana bisa kerja dengan baik jika tinggal di lingkungan seperti itu.

Pada monolog lain, suatu hari ada orang tua yang matanya berbinar melihat koran lusuh bergambar wanita dengan make up tebal. Si pak tua itu, tutur Jabo, ditegur oleh seseorang, kenapa membaca koran seronok. Si pak tua menjawab, mending membaca koran seronok daripada membaca koran yang berisi kekerasan atas nama agama. Si pak tua lalu dimaki sebagai kere. Tetapi pak tua cepat menjawab, “kere-kere gini juga rakyat, hati-hati orang kere bisa membuat anarki bagai buta penjarahan di mana-man. Itu sudah pernah terjadi toh, sambil kembali memeloti koran bergambar wanita itu.”

“Ternyata foto di koran itu adalah anak tetangganya sendiri,” cerita pria yang memiliki nama lahir Mochamad Djohansyah, sambil terkekeh. Musik terus mengalun mengiringi monolog ala Sirkus Barock.

“Ini cerita lain lagi. Suatu saat di warung remang jual minuman pelupa hidup yang oplosan, soal rasa nomor sekian yang penting murah dan cepat mabok. Di warung itu banyak yang nonton tv yang menghadirkan acara dialog hukum. Lalu datang seorang gimbal yang berkata bahwa dialog hukum itu percuma saja, sudah jelas terbukti dengan wanita di dalam hotel. Tapi karena partainya pintar dan bisa sewa pengecara mahal, jadi tetap saja bisa bebas. Ini kan negara partai,” tutur Jabo, pria  kelahiran Surabaya 1951 yang kini tinggal di Australia itu.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...