Rabu, 19 Oktober 2011

Biola Untuk Anjal Hingga Anak Kuliahan


Hampir semua biola yang dimainkan anak jalanan (anjal) di Kota Bandung, Jawa Barat, berasal dari pahatan dan ukiran tangan Budi Benjo. Dengan alat seadanya, biola Budi bahkan dipesan mahasiswa dan
toko musik.


Musik Belladonna mengalun di Kampung Babakan Siliwangi alias Baksil, tepatnya di belakang Sanggar Olah Seni (SOS). Musik yang pernah dibawakan kembali oleh para violinis cantik grup Bond itu mengalun dari gesekan biola yang dimainkan beberapa anjal yang biasa bermalam di sana.
Mereka memainkan musik itu sambil menemani Budi Benjo yang tengah membuat biola. 

Budi merupakan pengrajin biola yang selama ini memasok kebutuhan biola bagi para
anjal di Kota Bandung. Tidak heran jika akhir-akhir ini, baik di bus kota, terminal, maupun di
lampu-lampu merah Kota Bandung, makin banyak pengamen yang menggesek biola. Mayoritas biola mereka bermerek Diel Violin made in Budi Benjo. Biola-biola itu dibuat di bekas pos ronda 1x1 meter di belakang Siliwangi, belakang SOS, Jalan Siliwangi Bandung.

Sambil membuat biola itulah, biasanya Budi ditemani para Anjal yang berlatih berbagai macam lagu, termasuk lagu Belladanna tadi. Budi mengejakan biola mulai dari pembentukan tubuh, leher, rumah siput, hingga finishing biola berupa pengecatan. Uniknya, meski kerja Budi serba manual, dengan peralatan seadanya terutama dengan pahat kuku dan pahat lurus, kualitas biola buatannya bisa sekelas dengan biola pabrikan.

Bahkan, mahasiswa dan beberapa toko musik di Bandung dan Jakarta sudah banyak  yang mesan. Namun, karena Budi hanya pengrajin sendirian, beberapa pesanan tak mampu dia penuhi. "Pesenan banyak, tapi terkendala sdm dan modal," kata pria berambut panjang ini.

 Sebagai gambaran tingginya pesanan, sebuah toko musik di Jalan Dewi Sartikan Bandung pernah meminta minta delapan biola perbulan. Namun dalam sebulan Budi hanya sanggup memproduksi dua buah biola. Pembuatan satu biola bisa memakan waktu 2 sampai 3 minggu tergantung ukuran biolanya; makin kecil biola makin lama pembuatannya. “Karena biola kecil detailnya juga rumit,” jelasnya.

Budi mampu membuat semua kategori biola yang ada saat ini, muali dari yang terkecil 1/4 dan 3/4 yang diperuntukan bagi anak 4 sampai 6 tahun, kategori 1/2 untuk 6-12 tahun, hingga biola untuk remaja dan dewasa yakni 7/8 dan 4/4.

Soal harga, Budi mematok lebih rendah dari harga pasaran yakni kisaran Rp300.000. Padahal, di toko musik harga biola standar merek Cremona bisa mencapai Rp750.000 sampai Rp800.000. "Soal harga saya sesuaikan dengan penghasilan pembeli, jika pengamen, ya di bawah Rp300 ribu," kata Budi.
Biola buatan Budi biasanya terbuat dari kayu pinus. Dia tidak bisa membuat dari kayu ideal karena faktor harga tersebut. Biola merek terkenal biasanya terbuat dari kayu ciprus dan mavel. Harganya juga sangat tinggi mencapai jutaan.

Selain keterbatasan SDM, Budi juga terkendala modal. Karena modal inilah, beberapa pengrajin biola di Bandung banyak yang tersendat. Sebenarnya, di Bandung banyak pengrajin mampu membuat biolaa berkualitas. Saat ditemui, Budi sangat memerlukan kompresor untuk finishing. Selama ini, pengecatan dilakukan dengan kuas sendiri. Sedangkan ikut ngecat di tempat pengecatan tidak akan efisien karena akan menambah biaya produksi.

Sebenarnya, soal modal untuk produksi terbatas saat ini, Budi mengakalinya dengan cara membuka kursus-kursus benjo (gitar musik country), dan rajin mengikuti pentas. Hasilnya dibelikan bahan untuk membuat biola. Ini dilakukannya supaya biola terus tercipta lewat  tangannya. Selain itu, dia ingin memberi bekal terhadap para anjal supaya bisa membuat dan memainkan biola.

"Karena yang namanya ilmu kan ga sulit dibawa-bawa," ujarnya. Sayangnya, dalam membuat biola perlu ketekunnan yang luar biasa. Sehingga para anjal jarang yang berminat menekuni upaya Budi.

Rencana lain, Budi ingin kerja sama dengan Dinas Pendidikan supaya biolanya bisa masuk ekstrakulikuler sekolah. Meski rencana ini baru sebatas angan, namun pria kelahiran Bandung 27 agustus 1968 itu yakin, jika dia terus menekuni biolanya, suatu saat kerja sama itu akan terwujud.

Budi Benjo, awalnya pemain bejo di era 1989, lalu eksis bersama grup band FCB (fox countri blues) yang eksis pada 1997. Dia pernah main dengan Doel Sumbang, Franky Sahilatua, Iwan Abdurahman. Pada 1997 dia belajar dari pemain biola Setia. 

Pada 2000-an, dia sudah mahir bermain biola. Suatu saat, biola punya keponakannya rusak. Dia terpaksa harus memperbaiki neck biola 3/4 itu. Biola itu dibongkarnya, hingga dia mengetahui konstruksi. Butuh waktu seminggu untuk memperbaikinya hingga suaranya normal kembali. Dari situlah dia mulai membuat biola sendiri. "Selebihnya saya belajar dari internet," ujarnya.

***Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pagi  Radar Bandung 2009

2 komentar:

  1. menarik bang, inspiratif... jadi termotivasi untuk berbagi....

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...